Setiap orang ingin menjadi pemenang dan menjalani kehidupan dengan kelapangan, tetapi kita selalu menciptakan belenggu kebebasan diri kita sendiri. Wejangan para sesepuh sebenarnya bukan hanya hasil dari pemikiran beliau, tetapi lebih banyak karena adanya laku, wangsit dan pengalaman hidup, karena itu tak ada ruginya jika kita selalu berkaca dengan PITUTUR LUHUR mereka, agar kita dapat mengeliminasi belenggu yang kita ciptakan. Hidup dalam kebebasan luas untuk mencapai tujuan hidup yaitu Sukses!
Thursday, 19 October 2017
PITUTUR LUHUR: Diskontinuitas (Tips Mbeling)
Kunci Sukses
Bo Wero, luas tanpa batasan. Menjadi pemenang dengan ruang kebebasan yang tanpa batas adalah keinginan setiap orang. Tetapi anehnya kita selalu menutup diri dari hal hal baru, selalu terpaku pada pola lama dan tidak mau mengupgrade pikiran kita, agar pikiran dan tindakan kita sejalan dengan perubahan yang sangat cepat terjadi.
Baca Juga: OUT OF BOX (Cara Pandang Untuk Sukses)
Ketika perubahan-perubahan yang perlahan tidak pernah kita perhatikan, ada bahaya besar yang mengancam kita karena terlena dalam kebiasaan-kebiasaan lama, karena setelah akumulasi perubahan itu menjadi signifikan, kita akan terhenyak, terkaget dan gagap bahkan bisa terlibas olehnya.
Sebagai gambaran, dulu dalam sebuah perusahaan percetakan, mesin ketik adalah alat yang paling penting. Karena setiap orang yang bekerja dalam perusahaan itu pastilah menggunakannya. Sehingga pada waktu itu seorang tukang membersihkan mesin ketik merupakan pekerjaan yang sangat vital karena kontribusinya yang tinggi.
Sekarang, dunia sudah banyak berubah, di zaman yang serba komputerisasi ini, mesin ketik sudah banyak ditinggalkan, meskipun masih digunakan dengan persentase yang sangat minimal. Dengan biaya yang lebih murah dan hasil yang lebih baik dan lebih cepat, maka komputer telah menggantikan secara massal mesin-mesin ketik dalam perusahaan. Sehingga seorang tukang membersihkan mesin ketik secara otomatis tidak begitu diperlukan lagi. Jikapun dia masih membersihkan mesin ketik, itu adalah kegiatan yang mubadzir.
Seorang tukang membersihkan mesin ketik harus mulai membekali diri dengan kemampuan dan pengetahuan membersihkan keyboard atau perangkat keras komputer, agar tidak pekerjaannya tidak menjadi usang dan mem-fosil. Jika tidak, misal pun dia tidak dipecat dari perusahaan dan masih tetap mendapatkan gaji maka gaji yang dia dapat bukanlah penghargaan real dari hasil kerjanya, mungkin bisa dibilang hal itu karena perusahaan "kasihan" dengan yang bersangkutan. Dan hidup dalam belas kasihan orang lain bukanlah hidup seorang pemenang.
Mungkin pernah Anda berfikiran, apalah guna kita meningkatkan kinerja kita, toh perusahaan belum tentu memberikan penghargaan atas peningkatan kinerja kita? dengan pekerjaan yang seperti biasanya, kita tetap mendapatkan gaji, tunjangan dan uang pensiun (mungkin). Padahal dalam jaman dengan perubahan yang sangat cepat ini, peningkatan kerja dan kemampuan serta pengetahuan yang baru sangat mutlak diperlukan agar nantinya kita tidak menjadi orang yang "kadaluwarsa" dan menjadi parasit bagi perusahaan atau orang lain, karena bukan kontribusi yang kita berikan tetapi beban untuk membayar kita.
Yakinlah dengan peningkatan yang kita lakukan, meskipun bukan perusahaan yang memberikan "reward", mungkin akan datang dari tempat/orang yang lain pada akhirnya nanti.
Perubahan zaman yang sangat cepat ini menggambarkan "diskontinuitas", perkembangan jaman tidak selalu linear kontinu. Hal-hal tidak lagi dikembangkan untuk "menjadi lebih baik", tetapi "digantikan dengan yang lebih baik". Sebagai contoh dunia informasi, mesin ketik sudah sama sekali tidak digunakan, digantikan dengan komputer, betapapun mesin ketik dikembangkan dengan sedemikian rupa. Dengan komputer kecepatan informasi dan integrasi tulisan, gambar dan sistem pengiriman informasi dapat dilakukan dengan cepat. Contoh yang lain adalah dunia perbankan sekarang sudah emninggalkan sistem tatap muka dan telah diganti dengan ATM dan mobile/internet banking.
Dalam kontek seperti itulah dibutuhkan cara pikir baru, cara pandang baru, cara bertindak yang baru dalam menangani hal hal baru, bukan dengan aturan main yang baku, tetapi digantikan dengan yang baru. Salah satu kunci sukses dalam hal ini adalah "bukan sekedar menjadi lebih baik, tetapi menjadi lain". Menjadi lebih baik" itu hanya sekedar memperbaiki cara tetapi masih berpijak pada paradigma lama, sedangkan "menjadi lain", berarti memakai paradigma baru dengan menyesuaikan cara bertindak sesuai dengan tuntutan yang baru itu.
Bo Wero, kunci sukses dimulai dari dalam diri dengan terus menerus memberdayakan diri, agar peka melihat gejala-gejala perubahan, dan siap menangkap peluang yang tercipta olehnya. Hidup penuh kelapangan dan kebebasan dan keluar sebagai pemenang !!!
Salam Sukses
Tuesday, 17 October 2017
Pitutur Luhur: Wejangan dalam Penggambaran Wujud Semar
Pitutur Luhur Ki Lurah Semar
Dalam pewayangan jawa terdapat tokoh wayang yang sangat berpengaruh, tetapi tidak ditemukan dalam kitab wira carita Mahabharata maupun Ramayana, tokoh itu adalah Ki Lurah Bodronoyo atau biasa disebut Ki Lurah Semar. Tokoh ciptaan Sunan Kalijaga ini adalah orang tua dari Panakawan Gareng, Petruk dan Bagong yang menjadi "pamomong" atau pengasuh kesatria Pandawa (utamanya Arjuna/Permadi).
Semar digambarkan secara fisik sebagai orang tua dengan bentuk badan yang bulat, yang mempunyai maksud penggambaran bumi yang merupakan orang tua, tempat mengayom dan tinggalnya umat manusia. Dalam filosofi, penggambaran Semar menyatakan pertentangan yang menjadi satu, sebagai gambaran dalam kehidupan nyata, bahwa segala sesuatu diciptakan berpasang-pasangan. Penggambaran Semar antara lain:
Meskipun mempunyai wajah yang tua renta, tetapi Semar digambarkan mempunyai potongan rambut seperti anak kecil dan selalu memakai "ketu", penutup kepala anak bayi/balita, hal ini menunjukkan bahwa di dalam dunia ini terdapat kehidupan yang dimulai dari anak kecil sampai tua renta.
Ki lurah Bodronoyo adalah seorang laki-laki tetapi mempunyai payudara (pentil), yang menggambarkan bahwa kehidupan di bumi terdiri dari lanang (laki-laki) dan wadon (perempuan).
Semar mempunyai mata yang sembab tetapi wajahnya selalu tersenyum, menunjukkan bahwa dalam kehidupan kesedihan dan kesenangan adalah hal yang niscaya, dan berpasangan (isining ndonya iku kesenengan lan kesusahan/isinya dunia itu senang dan susah). Karenanya penggambaran ini memberikan nasehat untuk tidak berlebihan dalam kebahagiaan ataupun kesedihan, karena kebahagiaan akan datang silih berganti mengiringi perjalanan hidup manusia.
Semar sejatinya berdiri, tetapi dalam gambarannya seperti orang yang jongkok, menggambarkan kawula (bawahan) dan ndara (atasan) bahwa ketika kita mendapatkan kedudukan di dunia ini, kita harus tetap merendah dan tidak sewenang-wenang kepada kawula, karena kedudukan setiap saat bisa berubah, tergantung yang berwenang mengatur kehidupan (Allah SWT).
Tangan kanan Kyai Semar selalu disembunyikan dibalik badannya, mengandung filosofi agar kita selalu menyembunyikan kebaikan dan kelebihan yang dimiliki, andhap asor (rendah hati).
Kyai Lurah Semar sejatinya adalah seorang dewa yang menjelma dalam wujud manusia, hal ini menunjukkan bahwa dalam hidup, sifat kedewaan dan sifat manusia itu satu dan tidak dapat dipisahkan.
Meskipun hanya sebagai seorang kawula yang bertugas mengasuh Pandawa, tetapi Ki Lurah Semar dikenal sebagai orang tua yang penuh kebijaksanaan, setiap kata dan perumpamaannya adalah wejangan (nasehat), Ki Lurah Semar juga mempunyai kelebihan dalam meramalkan hal yang akan terjadi. Karena itulah apa yang dinasehatkan oleh Semar selalu diterima dengan baik, bahkan tidak pernah dibantah oleh raja sekalipun. Dalam banyak lakon wayang, Bathara Krisna yang merupakan jelmaan Wisnu, sering meminta nasehat kepada Semar dan tidak pernah membantah Semar.
Itulah penggambaran Ki Lurah Badranaya, penggambarannya akan terus mengikuti perkembangan jaman dan tidak lekang oleh waktu. Ada bayak sekali petuah dan nasehat dalam menjalani kehidupan, nasehat-nasehat ini banyak dipakai sebagai batasan dan acuan dasar orang jawa dalam bertindak dan menjalani kehidupan ini, karena dengan menjalankan apa yang menjadi petuah Ki Lurah Badranaya, kehidupan seseorang akan Ayem, tentrem dan mukti (sukses).
PITUTUR LUHUR: Filosofi Jawa Ala lan Becik Iku Gandhengane (Baik dan Buruk itu saling berpasangan)
Pitutur Luhur
Beberapa waktu yang lalu teman saya kehilangan orang yang paling dicintai, Neneknya meninggal dunia karena sakit. Rasa sedih pastilah menginggapi sanubarinya, tetapi dengan tenang ia dapat mengontrol diri untuk tidak berlarut dalam kesedihan.
Ya, teman saya memang orang yang mempunyai prinsip kejawen yang kuat, tidak pernah saya melihatnya mengeluhkan bencana yang menghampiri keluarganya. Memang pengalaman hidup yang dihadapinya telah banyak mengajarkan arti "sumarah", atau berpasrah kepada yang Maha kuasa, Allah Azza Wa Jalla.
Dalam prinsipnya segala sesuatu yang ada di dunia ini sudah berpasang-pasangan, "Ala lan becik iku wis gandhengane, Kabeh kui saka kersaning Allah (Baik dan buruk itu sudah berpasangan, semua karena kehendak Allah)". Bila kita mencermati apa yang menjadi prinsipnya, terasa benar apa yang dikandung dalam prinsip ini, yaitu keharusan seseorang untuk menyadari bahwa nasib baik maupun buruk yang menimpa seseorang adalah kehendak dari Tuhan.
Setiap orang tidak akan mampu mengatur dan menentukan sendiri nasibnya. Bahkan seorang ahli nujum terhebat sekalipun hanya mampu meraba dan menebak tanpa pernah mampu memahami kepastian nasib orang yang sedang diramalnya.
Prinsip dalam filosofi jawa ini memberikan pelajaran kepada kita bahwa, dalam kehidupan kita akan selalu mengalami dua kenyataan hidup, baik, buruk dan bahagia, duka cita. Tidak ada seorangpun dalam dunia ini ayang akan selalu merasa bahagia ataupun berduka selamanya, karena ketika kebaikan itu ada, keburukan pun ada bersamanya.
Nasib baik dan nasib buruk merupakan hal alamiah yang berada dalam kekuasaan Allah, hak prerogatifNya.Meskipun demikian prinsip ini tidak mengajarkan keputus asaan, tetapi mengajarkan bahwa tidak ada yang perlu disesali atas apapun yang menimpa, tugas kita hanya sumarah yaitu berusaha sebaik mungkin dan menyerahkan dengan segenap keyakinan kepada kehendakNya.
Dalam filosofi China yang diajarkan oleh I Ching dinyatakan, "Kekuatan Illahi sudah mulai bekerja, kekuatan besar yang tidak tertandingi. Berdayakan pula dirimu dan berkaryalah terus menerus".
Tetapi memang tidak mudah untuk menerapkan prinsip dan nilai nilai filosofi jawa ini, dibutuhkan banyak hal dan tantangan sebagai proses pencapaian kekuatan mental agar prinsip ini tertanam dalam sanubari dan secara otomatis melandasi setiap gerak langkah kita dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena itulah mencoba untuk tidak meratapi bencana atau keburukan yang terjadi dan berusaha berfikir positif mungkin jauh lebih baik sebagai awal penerapan prinsip jawa yang adiluhung ini.
Semoga kita menjadi bagian dari orang yang selalu berpasrah, la haula wala quwwata illa billah ...
Saturday, 26 August 2017
PITUTUR LUHUR: JANGAN BERDUSTA (Terjemahan pengajian Syekh Abdul Qodir Al Jaelani)
Pengajian Jumat pagi, 7 Jumadi Akhir 545 H di Madrasah.
Jadilah orang yang berakal dan jangan berdusta. Engkau berkata, "Aku takut kepada Allah 'Azza wa Jalla," namun mengapa kau takut juga kepada selain-Nya? Jangan takut pada siapapun, baik jin, manusia, maupun malaikat. jangan takut pula kepada apapun baik hewan yang berbicara maupun diam. Jangan takut dengan penderitaan dunia, dan jangan takut pula dengan siksaan di akhirat, akan tetapi takutlah pada Sang Pemberi Azab Siksaan.
Seorang yang berakal tidak akan takut celaan orang di sisi Allah 'Azza wa Jalla. Ia bisu dari bicara selain Allah 'Azza wa Jalla. Baginya, seluruh manusia lemah, sakit, dan fakir . Orang yang seperti dialah yang disebut ulama yang bermanfaat ilmunya, ulama yang mendalami syara' dan hakikat islam. Mereka adalah tabib-tabib agama yang (bisa) merakit kembali keretakannya. Hai orang yang retak agamanya! Datanglah pada mereka hingga mereka bisa merakit kembali keretakannya. Yang menurunkan penyakit adalah juga yang menurukan obat. Tentu saja, ia pula yang lebih mengerti tentang kemaslahatan daripada selainnya. jangan kecam Allah 'Azza wa Jalla dalam segala tindakan-nya (fi'l). Nafsu dirimulah yang harus lebih dikecam dan dicela daripada selainnya. Katakan kepada nafsu, bahwa anugerah diperuntukkan bagi yang menaati dan tongkat (pukulan) diperuntukkan bagi yang mengdurhakai (maksiat). Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan merampasnya(ikhtiar dan duniawinya), jika memang ia bersama (menghadapinya), maka Dia akan mengangkat (derajat)nya, membaguskan (taraf kehidupannya), memberinya(anugerah), dan membuatnya kaya.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kedekatan dengan-Mu tanpa cobaan petaka. Kasihilah kami dalam qadha dan qadar-Mu. Lindungilah kami dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya kaum durjana. Jagalah kami sebagimana yang engkau kehendaki. Kami memohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan dalam(menjalani) agama, dunia, Akhirat, dan kami memohon kepada-Mu taufik untuk (melaksanakan) amal-amal kesalehan serta keikhlasan dalam beramal . Amin!
Seorang laki-laki bertamu pada Abu Yazid al-Bisthami, kemudian lama menengok ke kanan dan kiri. Abu Yazid pun menegurnya, "Ada apa gerangan?" Ia menjawab," Aku ingin(mencari) tempat bersih untuk melaksanakan salat." Abu Yazid langsung menukas," bersihkan hatimu dulu dan barulah salat sebagimana kehendakmu.: Memang, riya' hanya bisa dideteksi oleh orang-orang yang ikhlas, sebab dulu mereka pernah terjebak didalamnya hingga akhirnya selamat dan lolos darinya . Riya' adalah rintangan ditengah jalam kaum (sufi) yang mau tidak mau harus mereka seberangi. Riya', ujub dan kemunafikan termasuk anak-anak panah setan yang dilemparkan ke dalam hati .
Datanglah pada para Syekh dan belajarlah dari reka cara melangkah di jalan yang berujung pada al-Haqq ' Azza wa Jalla, sebab jalan tersebut pernah mereka tempuh dan lalui. Tanyakanlah pada mereka ihwal petaka-petaka hawa nafsu dan tabiat, sebab mereka telah merasakan (pahitnya|) petaka-petaka, dan mengetahui bencana-bencana serta kegilaannnya. Mereka pernah terlibat didalamnya beberapa waktu, dan satu demi satu berhasil diatasinya, hingga mereka mampu mengalahkan dan menguasau(diri) , mereka.
Jangan terlena dengan hembusan-hembusan (bujuk rayu) Setan dalam dirimu, jangan kalah oleh panah-panah nafsu, sebab ia (nafsu) melemparimu dengan panah Setan, dan memang Setantidak dapat menguasai kecuali dengan sarana nafsu. Setan jin tidak akan dapat menguasai diri kecuali lewat media Setan manusia, yaitu nafsu dan kolega-kolega yang buruk. Memohonlah pada Allah'Az
za wa Jalla dan memintalah tolong pada-Nya dalam menghadapi musuh-musuh ini, niscaya Dia akan menolongmu. Jika engkau telah menemukan-Nya, lalu engkau lihat pula apa yang ada di sisi-Nya dan engkau pun dianugerahi-Nya hal tersebut, maka pulanglah kembali pada keluargamu dan khalayak manusia, serta gandenglah mereka menuju-Nya. Katakan pada mereka," Bawalah keluargamu semuanya kepada," sebagaimana Nabi Yusuf As. Ketika mendpatkan anugerah kepemilikan dan kerajaan, maka ia pun berkata pada keluarganya.
"Hai anak Adam! Jika Aku melewatkanmu, maka akan lepas pulas (darimu)mu segala sesuatu."
Bagaimana al-Haqq'Azza wa Jalla tidak melewatkanmu jika engkau berpaling dari-Nya, dan dari kamu mukmin serta hamba-hamba-Nya yang saleh, bahakan malah menyakiti mereka dengan ucapan dan tindakanmu, serta menentangmereka secara lahir dan batin.
Nabi Saw bersabda:
"menyakiti orang mukmin lima belas lebih besar(dosanya) di sisi Allah daripada merobohkan Ka'bab dan al-Bayt al-Ma'mur."
Dengarkan, hai orang yang selalu menyakiti kamu fuqara' Allah, padahal orang-orang yang beriman pada-Nya, saleh demi-Nya, arif mengenal-Nya dan berpasrah diri pada-Nya. Celakalah kau! sebentar lagi engkau akan menjadi mayat pucat yang dikeluarkan dari rumahmu, dan kekayaan yang engkau bangga-banggakan akan terbklar ludes tanpa bisa memberimu kemanfaatan apa-apa dan tidak pula mampu melindungimu.
Jadilah orang yang berakal dan jangan berdusta. Engkau berkata, "Aku takut kepada Allah 'Azza wa Jalla," namun mengapa kau takut juga kepada selain-Nya? Jangan takut pada siapapun, baik jin, manusia, maupun malaikat. jangan takut pula kepada apapun baik hewan yang berbicara maupun diam. Jangan takut dengan penderitaan dunia, dan jangan takut pula dengan siksaan di akhirat, akan tetapi takutlah pada Sang Pemberi Azab Siksaan.
Seorang yang berakal tidak akan takut celaan orang di sisi Allah 'Azza wa Jalla. Ia bisu dari bicara selain Allah 'Azza wa Jalla. Baginya, seluruh manusia lemah, sakit, dan fakir . Orang yang seperti dialah yang disebut ulama yang bermanfaat ilmunya, ulama yang mendalami syara' dan hakikat islam. Mereka adalah tabib-tabib agama yang (bisa) merakit kembali keretakannya. Hai orang yang retak agamanya! Datanglah pada mereka hingga mereka bisa merakit kembali keretakannya. Yang menurunkan penyakit adalah juga yang menurukan obat. Tentu saja, ia pula yang lebih mengerti tentang kemaslahatan daripada selainnya. jangan kecam Allah 'Azza wa Jalla dalam segala tindakan-nya (fi'l). Nafsu dirimulah yang harus lebih dikecam dan dicela daripada selainnya. Katakan kepada nafsu, bahwa anugerah diperuntukkan bagi yang menaati dan tongkat (pukulan) diperuntukkan bagi yang mengdurhakai (maksiat). Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, maka Dia akan merampasnya(ikhtiar dan duniawinya), jika memang ia bersama (menghadapinya), maka Dia akan mengangkat (derajat)nya, membaguskan (taraf kehidupannya), memberinya(anugerah), dan membuatnya kaya.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu kedekatan dengan-Mu tanpa cobaan petaka. Kasihilah kami dalam qadha dan qadar-Mu. Lindungilah kami dari kejahatan orang-orang jahat dan tipu daya kaum durjana. Jagalah kami sebagimana yang engkau kehendaki. Kami memohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan dalam(menjalani) agama, dunia, Akhirat, dan kami memohon kepada-Mu taufik untuk (melaksanakan) amal-amal kesalehan serta keikhlasan dalam beramal . Amin!
Seorang laki-laki bertamu pada Abu Yazid al-Bisthami, kemudian lama menengok ke kanan dan kiri. Abu Yazid pun menegurnya, "Ada apa gerangan?" Ia menjawab," Aku ingin(mencari) tempat bersih untuk melaksanakan salat." Abu Yazid langsung menukas," bersihkan hatimu dulu dan barulah salat sebagimana kehendakmu.: Memang, riya' hanya bisa dideteksi oleh orang-orang yang ikhlas, sebab dulu mereka pernah terjebak didalamnya hingga akhirnya selamat dan lolos darinya . Riya' adalah rintangan ditengah jalam kaum (sufi) yang mau tidak mau harus mereka seberangi. Riya', ujub dan kemunafikan termasuk anak-anak panah setan yang dilemparkan ke dalam hati .
Datanglah pada para Syekh dan belajarlah dari reka cara melangkah di jalan yang berujung pada al-Haqq ' Azza wa Jalla, sebab jalan tersebut pernah mereka tempuh dan lalui. Tanyakanlah pada mereka ihwal petaka-petaka hawa nafsu dan tabiat, sebab mereka telah merasakan (pahitnya|) petaka-petaka, dan mengetahui bencana-bencana serta kegilaannnya. Mereka pernah terlibat didalamnya beberapa waktu, dan satu demi satu berhasil diatasinya, hingga mereka mampu mengalahkan dan menguasau(diri) , mereka.
Jangan terlena dengan hembusan-hembusan (bujuk rayu) Setan dalam dirimu, jangan kalah oleh panah-panah nafsu, sebab ia (nafsu) melemparimu dengan panah Setan, dan memang Setantidak dapat menguasai kecuali dengan sarana nafsu. Setan jin tidak akan dapat menguasai diri kecuali lewat media Setan manusia, yaitu nafsu dan kolega-kolega yang buruk. Memohonlah pada Allah'Az
za wa Jalla dan memintalah tolong pada-Nya dalam menghadapi musuh-musuh ini, niscaya Dia akan menolongmu. Jika engkau telah menemukan-Nya, lalu engkau lihat pula apa yang ada di sisi-Nya dan engkau pun dianugerahi-Nya hal tersebut, maka pulanglah kembali pada keluargamu dan khalayak manusia, serta gandenglah mereka menuju-Nya. Katakan pada mereka," Bawalah keluargamu semuanya kepada," sebagaimana Nabi Yusuf As. Ketika mendpatkan anugerah kepemilikan dan kerajaan, maka ia pun berkata pada keluarganya.
"Hai anak Adam! Jika Aku melewatkanmu, maka akan lepas pulas (darimu)mu segala sesuatu."
Bagaimana al-Haqq'Azza wa Jalla tidak melewatkanmu jika engkau berpaling dari-Nya, dan dari kamu mukmin serta hamba-hamba-Nya yang saleh, bahakan malah menyakiti mereka dengan ucapan dan tindakanmu, serta menentangmereka secara lahir dan batin.
Nabi Saw bersabda:
"menyakiti orang mukmin lima belas lebih besar(dosanya) di sisi Allah daripada merobohkan Ka'bab dan al-Bayt al-Ma'mur."
Dengarkan, hai orang yang selalu menyakiti kamu fuqara' Allah, padahal orang-orang yang beriman pada-Nya, saleh demi-Nya, arif mengenal-Nya dan berpasrah diri pada-Nya. Celakalah kau! sebentar lagi engkau akan menjadi mayat pucat yang dikeluarkan dari rumahmu, dan kekayaan yang engkau bangga-banggakan akan terbklar ludes tanpa bisa memberimu kemanfaatan apa-apa dan tidak pula mampu melindungimu.
PITUTUR LUHUR: MBELING (OUT OF BOX)
Dari Maha Karya Wandi S Brata, Bo Wero
Bo Wero, Hidup dengan ruang kebebasan tanpa batas dan muncul sebagai pemenang !! itulah tujuan yang pantas bagi setiap orang. Anehnya kita menutup jalur sukses kita sendiri dengan bersikukuh kaku pada pola yang sudah dianggap baku dalam masyarakat. Kita sering membuat batasan yang menjadikan kreatifitas jadi melempem dan selalu terbatas pada pakem dan jarang berfikir OUT OF THE BOX.
Hidup tak berdegup, cerita mudah di duga, kreatifitas jadi kurang warna, sudut pandang jadi usang, orientasi mengarah ke belakang, petuah hanya membuat jadi jengah, bibir berbusa hanya menghasilkan bunyi yang tak mampu menggugah asa.
Seorang Leader mempunyai kemampuan tertentu yang tidak terlihat dan luput dari deskripsi kepemimpinan, kemampuan itu adalah mbeling. Dan pemenang hidup adalah orang orang yang mempunyai leadership, dan sedikit banyak berfikir mbeling !!.
Jika Anda adalah seorang yang tertib, anda adalah orang yang terpuji, karena itulah Anda menjadi seorang manager. Karena itu orang sering memperdebatkan antara leader dan manager, seakan akan leader itu mempunyai visi untuk bisa menyelesaikan masalah sekarang dan memandang jauh kedepan, sedangkan manager hanya mengelola berdasarkan mekanisme dan sistem yang sudah ada.
Mampu "melihat di balik", kualitas itulah yang membuat orang jadi mbeling, menjadikannya kreatif dan inovatif. Biasanya orang seperti itu dianggap nyleneh, yang membuatnya kurang disukai oleh orang yang berfikiran sesuai aturan. Tetapi sifat seperti inilah yang akan memberikan warna yang indah dalam perjuangan, memperkaya kehidupan kita.
Mbeling, bukan berarti asal bicara (sastro), asal bertindak (grusa grusu) tetapi Mbeling dalam hal ini adalah orang yang berpijak pada kebijaksanaan, berfikir kreatif dan tidak terpaku pada setiap peraturan, setiap pola, sistem, dia sadar bahwa tujuan bukan hanya dapat dicapai dengan mengikuti pola, sistem atau mekanisme yang telah di gariskan.
Aturan, sistem dan mekanisme memang baik selama hal itu masih mampu untuk mencapai tujuan dengan maksimal. Akan tetapi jika aturan, sistem dan mekanisme itu sudah kontra produktif dan mengganggu tujuan yang hendak di capai maka dibutuhkan sifat mbeling untuk jeli dan cerdas mendapatkan terobosan dengan batasan relativitas untuk mencapai tujuan secara maksimal.
Orang dengan pikiran mbeling akan mudah mencari terobosan yang out of box, tidak terpaku kaku pada aturan yang ada, dan biasanya akan mendapatkan hasil di luar ekspektasi, bahkan bisa mendongkrak tujuan dan melampaui target yang dibebankan. Akan sangat sulit mengekang mereka dengan satu pola pikir, satu kerangkeng....
Bo Wero, Kebebasan tanpa batas untuk mencapai kemenangan yang merupakan tujuan yang pantas untuk setiap orang. Dan itu dicapai oleh orang orang yang mbeling, yang mampu meletakkan dasar-dasar tujuannya di atas dasar dasar kebenaran, sadar akan banyaknya alternatif cara untuk mencapainya dan mau direpotkan untuk mencari cara terbaik dalam mencapai tujuannya...
Salam MBELING !!!!
Bo Wero, Hidup dengan ruang kebebasan tanpa batas dan muncul sebagai pemenang !! itulah tujuan yang pantas bagi setiap orang. Anehnya kita menutup jalur sukses kita sendiri dengan bersikukuh kaku pada pola yang sudah dianggap baku dalam masyarakat. Kita sering membuat batasan yang menjadikan kreatifitas jadi melempem dan selalu terbatas pada pakem dan jarang berfikir OUT OF THE BOX.
Hidup tak berdegup, cerita mudah di duga, kreatifitas jadi kurang warna, sudut pandang jadi usang, orientasi mengarah ke belakang, petuah hanya membuat jadi jengah, bibir berbusa hanya menghasilkan bunyi yang tak mampu menggugah asa.
Seorang Leader mempunyai kemampuan tertentu yang tidak terlihat dan luput dari deskripsi kepemimpinan, kemampuan itu adalah mbeling. Dan pemenang hidup adalah orang orang yang mempunyai leadership, dan sedikit banyak berfikir mbeling !!.
Jika Anda adalah seorang yang tertib, anda adalah orang yang terpuji, karena itulah Anda menjadi seorang manager. Karena itu orang sering memperdebatkan antara leader dan manager, seakan akan leader itu mempunyai visi untuk bisa menyelesaikan masalah sekarang dan memandang jauh kedepan, sedangkan manager hanya mengelola berdasarkan mekanisme dan sistem yang sudah ada.Mampu "melihat di balik", kualitas itulah yang membuat orang jadi mbeling, menjadikannya kreatif dan inovatif. Biasanya orang seperti itu dianggap nyleneh, yang membuatnya kurang disukai oleh orang yang berfikiran sesuai aturan. Tetapi sifat seperti inilah yang akan memberikan warna yang indah dalam perjuangan, memperkaya kehidupan kita.
Mbeling, bukan berarti asal bicara (sastro), asal bertindak (grusa grusu) tetapi Mbeling dalam hal ini adalah orang yang berpijak pada kebijaksanaan, berfikir kreatif dan tidak terpaku pada setiap peraturan, setiap pola, sistem, dia sadar bahwa tujuan bukan hanya dapat dicapai dengan mengikuti pola, sistem atau mekanisme yang telah di gariskan.
Aturan, sistem dan mekanisme memang baik selama hal itu masih mampu untuk mencapai tujuan dengan maksimal. Akan tetapi jika aturan, sistem dan mekanisme itu sudah kontra produktif dan mengganggu tujuan yang hendak di capai maka dibutuhkan sifat mbeling untuk jeli dan cerdas mendapatkan terobosan dengan batasan relativitas untuk mencapai tujuan secara maksimal.
Orang dengan pikiran mbeling akan mudah mencari terobosan yang out of box, tidak terpaku kaku pada aturan yang ada, dan biasanya akan mendapatkan hasil di luar ekspektasi, bahkan bisa mendongkrak tujuan dan melampaui target yang dibebankan. Akan sangat sulit mengekang mereka dengan satu pola pikir, satu kerangkeng....
Bo Wero, Kebebasan tanpa batas untuk mencapai kemenangan yang merupakan tujuan yang pantas untuk setiap orang. Dan itu dicapai oleh orang orang yang mbeling, yang mampu meletakkan dasar-dasar tujuannya di atas dasar dasar kebenaran, sadar akan banyaknya alternatif cara untuk mencapainya dan mau direpotkan untuk mencari cara terbaik dalam mencapai tujuannya...
Salam MBELING !!!!
Friday, 31 March 2017
PITUTUR LUHUR: KESENANGAN YANG MENUMBUHKAN IDE
Dari Buku Bo Wero, By Wandi S Brata.
Dalam hidup semua orang menginginkan untuk menjadi pemenang, tetapi hanya sebagian kecil orang yang memenuhi kriteria untuk menjadi pemenang itu. Sebagian BESAR yang lain lebih suka menutup jalan kemenangan mereka sendiri dengan mudah menyerah ketika berhadapan dengan situasi yang menantang, bagi kebanyakan orang virus malas adalah virus yang mudah menginfeksi, sehingga orang lebih sering lari dari kesulitan, tantangan hidup. Dan akhirnya hidup menjadi monoton, dangkal dan kita tidak dapat merasakan nikmatnya hasil perjuangan.
(Baca Juga: Filosofi jawa: Ajining Diri Gumantung Ono Ing Lathi)
Jika Anda penggemar berat Manchester United, mungkin akan selalu teringat dengan Final Liga Champions Eropa tahun 1998/1999. Mungkin ada sebagian orang beranggapan itu adalah suatu keberuntungan belaka, setelah tertinggal 1 - 0 dari Bayern Munchen, secara mengejutkan pada masa injury time, Setan Merah mampu membalikkan skor menjadi 2 -1 melalui Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solkjaer. Mungkin banyak orang yang hanya melihat terjadinya gol, tetapi tidak pernah melihat proses bagaimana sampai mereka bisa membalikkan skor, dalam masa rehat babak pertama, para pemain MU mendapat tekanan dari sang pelatih saat itu (Alex Ferguson) yang terkenal raja tega kepada para pemainnya. Alhasil di babak ke 2 permainan MU jauh lebih baik dan lebih banyak menekan pertahanan lawan dan hasilnya mereka mampu mencetak 2 gol meskipun terjadi di penghujung laga, dan akhirnya mereka bersuka cita menikmati hasil perjuangan, menjadi juara Champions untuk kali pertama.
Pun demikian dengan apa yang terjadi pada Archimedes (287 - 212 SM), mungkin kita mengira bahwa Archimedes hanya beruntung mendapatkan pemecahan masalah ketika sedang berendam di kamar mandi. Kemudian dengan picik kita menyimpulkan bahwa Tuhan tidak adil, karena ada orang yang dalam waktu kesenangannya menemukan sesuatu yang besar, sedangkan kita berusaha setengah mati tidak pernah bisa menemukan hal yang besar, lalu kita menjadi mudah iri dan dengki terhadap orang lain.
Sebenarnya apa yang membedakan Archimedes dengan kita, sehingga waktu senggangnya begitu mencerahkan, sedangkan kita tidak?
Jawabannya karena sang ahli matematika abad 3 SM tersebut pandai memacari dewa dewi. Jika hanya dengan kemampuan manusia kita bisa memacari dewa dewi bagaimana jika mendapatkan tambahan kuasa Ilahi? bakal dahsyat.
(Baca Juga: Pitutur Luhur: Semua Karena Persepsi)
Kunci dari semua sebenarnya adalah Insight (wawasan), orang yang mempunyai Insight akan sering menanyakan akan segala sesuatu dan berusaha mencari jawaban atas apa yang menjadi kebingungannya. Untuk mendapatkan insight ini yang diperlukan adalah fermentasi.
Archimedes pada masa itu diminta oleh sang raja untuk mengecek apakah mahkota yang dia pesan dari seorang pembuat mahkota benar benar terbuat dari emas atau hanya tembaga yang dilapisi emas. Meskipun seorang ahli matematika terkemuka pada masa itu, mendapat tugas seperti itu membuat dirinya pusing. Bagaimana membuktikan jika mahkota itu terbuat dari emas asli, satu satunya jalan adalah dengan membelah mahkota itu, tetapi apabila mahkota itu di belah, maha karya besar sang pembuat akan sia sia.
Archimedes terus memeras otak hingga pada akhirnya dia menemukan cara ketika sedang mandi berendam di kamar mandi, dan sampai sekarang apa yang ditemukannya banyak dikenal dengan hukum Archimedes, dan kita ketahui bersama hukum itu masih berlaku dan diajarkan sampai sekarang. (Hukum itu mengenai terapung, melayang dan tenggelam) yang ia gunakan untuk membuktikan kebenaran mahkota emas.
Sesuatu yang sepele dan dialami juga oleh semua orang, tetapi seorang Archimedes bisa menemukan sesuatu yang bermanfaat, kunci dari semua itu adalah Fermentasi pikiran, sebelum menemukan jawaban itu archimedes telah memeras otak, mengendapkan dan mengambil sari kemudian di fermentasi. Ibarat anggur yang diperas, diambil sarinya kemudian di fermentasi dan akhirnya menjadi minuman yang enak.
Dalam hal ini Insight sangat berperan menjambatani yang konkret dengan yang abstrak serta yang terbatas dengan yang universal. Pikiran yang ia kembangkan dalam memecahkan masalah akhirnya menghasilkan rumus umum yang universal dapat digunakan untuk memecahkan banyak sekali permasalahan.
Jadi, hanya beruntungkah Archimedes?
Sekarang kita jadi tahu bahwa sang Dewi Fortuna akan menyambangi orang yang suka mencari. Bagi Archimedes semangat mencari dan bertanya itu menjadikannya orang yang mempunyai apa yang disebut Dogta Ignoratia, ketidak tahuan yang terdidik, dari ketidak tahuannya dia terus mencari dan akhirnya menemukan jawaban.
Kemudian karena mempunyai Dogta Ignoratia, maka waktu senggangnya menjadi kaya dan subur untuk tumbuh ide ide baru. jadi Dogta Ignoratia, Prospera Leisura. Orang yang mempunyai ketidak tahuan yang terdidik, menjadikan waktu luangnya, waktu yang sangat efektif untuk menumbuhkan ide ide briliant.
Hidup dalam kebebasan dan berusaha menjadi pemenang dengan mengembangkan sikap, tidak mudah menyerah dan banyak mencari, sehingga pikiran pikiran buntu sekalipun akan terendap dan terfermentasi sehingga bisa menumbuhkan ide ide baru untuk pemecahan permasalahan hidup.
Semoga Bermanfaat ....
Salam Sukses !!!
Dalam hidup semua orang menginginkan untuk menjadi pemenang, tetapi hanya sebagian kecil orang yang memenuhi kriteria untuk menjadi pemenang itu. Sebagian BESAR yang lain lebih suka menutup jalan kemenangan mereka sendiri dengan mudah menyerah ketika berhadapan dengan situasi yang menantang, bagi kebanyakan orang virus malas adalah virus yang mudah menginfeksi, sehingga orang lebih sering lari dari kesulitan, tantangan hidup. Dan akhirnya hidup menjadi monoton, dangkal dan kita tidak dapat merasakan nikmatnya hasil perjuangan.
(Baca Juga: Filosofi jawa: Ajining Diri Gumantung Ono Ing Lathi)
Jika Anda penggemar berat Manchester United, mungkin akan selalu teringat dengan Final Liga Champions Eropa tahun 1998/1999. Mungkin ada sebagian orang beranggapan itu adalah suatu keberuntungan belaka, setelah tertinggal 1 - 0 dari Bayern Munchen, secara mengejutkan pada masa injury time, Setan Merah mampu membalikkan skor menjadi 2 -1 melalui Teddy Sheringham dan Ole Gunnar Solkjaer. Mungkin banyak orang yang hanya melihat terjadinya gol, tetapi tidak pernah melihat proses bagaimana sampai mereka bisa membalikkan skor, dalam masa rehat babak pertama, para pemain MU mendapat tekanan dari sang pelatih saat itu (Alex Ferguson) yang terkenal raja tega kepada para pemainnya. Alhasil di babak ke 2 permainan MU jauh lebih baik dan lebih banyak menekan pertahanan lawan dan hasilnya mereka mampu mencetak 2 gol meskipun terjadi di penghujung laga, dan akhirnya mereka bersuka cita menikmati hasil perjuangan, menjadi juara Champions untuk kali pertama.Pun demikian dengan apa yang terjadi pada Archimedes (287 - 212 SM), mungkin kita mengira bahwa Archimedes hanya beruntung mendapatkan pemecahan masalah ketika sedang berendam di kamar mandi. Kemudian dengan picik kita menyimpulkan bahwa Tuhan tidak adil, karena ada orang yang dalam waktu kesenangannya menemukan sesuatu yang besar, sedangkan kita berusaha setengah mati tidak pernah bisa menemukan hal yang besar, lalu kita menjadi mudah iri dan dengki terhadap orang lain.
Sebenarnya apa yang membedakan Archimedes dengan kita, sehingga waktu senggangnya begitu mencerahkan, sedangkan kita tidak?
Jawabannya karena sang ahli matematika abad 3 SM tersebut pandai memacari dewa dewi. Jika hanya dengan kemampuan manusia kita bisa memacari dewa dewi bagaimana jika mendapatkan tambahan kuasa Ilahi? bakal dahsyat.
(Baca Juga: Pitutur Luhur: Semua Karena Persepsi)
Kunci dari semua sebenarnya adalah Insight (wawasan), orang yang mempunyai Insight akan sering menanyakan akan segala sesuatu dan berusaha mencari jawaban atas apa yang menjadi kebingungannya. Untuk mendapatkan insight ini yang diperlukan adalah fermentasi.
Archimedes pada masa itu diminta oleh sang raja untuk mengecek apakah mahkota yang dia pesan dari seorang pembuat mahkota benar benar terbuat dari emas atau hanya tembaga yang dilapisi emas. Meskipun seorang ahli matematika terkemuka pada masa itu, mendapat tugas seperti itu membuat dirinya pusing. Bagaimana membuktikan jika mahkota itu terbuat dari emas asli, satu satunya jalan adalah dengan membelah mahkota itu, tetapi apabila mahkota itu di belah, maha karya besar sang pembuat akan sia sia.
Archimedes terus memeras otak hingga pada akhirnya dia menemukan cara ketika sedang mandi berendam di kamar mandi, dan sampai sekarang apa yang ditemukannya banyak dikenal dengan hukum Archimedes, dan kita ketahui bersama hukum itu masih berlaku dan diajarkan sampai sekarang. (Hukum itu mengenai terapung, melayang dan tenggelam) yang ia gunakan untuk membuktikan kebenaran mahkota emas.
Sesuatu yang sepele dan dialami juga oleh semua orang, tetapi seorang Archimedes bisa menemukan sesuatu yang bermanfaat, kunci dari semua itu adalah Fermentasi pikiran, sebelum menemukan jawaban itu archimedes telah memeras otak, mengendapkan dan mengambil sari kemudian di fermentasi. Ibarat anggur yang diperas, diambil sarinya kemudian di fermentasi dan akhirnya menjadi minuman yang enak.
Dalam hal ini Insight sangat berperan menjambatani yang konkret dengan yang abstrak serta yang terbatas dengan yang universal. Pikiran yang ia kembangkan dalam memecahkan masalah akhirnya menghasilkan rumus umum yang universal dapat digunakan untuk memecahkan banyak sekali permasalahan.
Jadi, hanya beruntungkah Archimedes?
Sekarang kita jadi tahu bahwa sang Dewi Fortuna akan menyambangi orang yang suka mencari. Bagi Archimedes semangat mencari dan bertanya itu menjadikannya orang yang mempunyai apa yang disebut Dogta Ignoratia, ketidak tahuan yang terdidik, dari ketidak tahuannya dia terus mencari dan akhirnya menemukan jawaban.
Kemudian karena mempunyai Dogta Ignoratia, maka waktu senggangnya menjadi kaya dan subur untuk tumbuh ide ide baru. jadi Dogta Ignoratia, Prospera Leisura. Orang yang mempunyai ketidak tahuan yang terdidik, menjadikan waktu luangnya, waktu yang sangat efektif untuk menumbuhkan ide ide briliant.
Hidup dalam kebebasan dan berusaha menjadi pemenang dengan mengembangkan sikap, tidak mudah menyerah dan banyak mencari, sehingga pikiran pikiran buntu sekalipun akan terendap dan terfermentasi sehingga bisa menumbuhkan ide ide baru untuk pemecahan permasalahan hidup.
Semoga Bermanfaat ....
Salam Sukses !!!
PITUTUR LUHUR: AJINING DIRI DUMUNUNG ONO ING LATHI, AJINING RAGA ANA ING BUSONO
Filosofi Jawa, Akhir akhir ini di Indonesia sedang ramai dibicarakan tentang kasus penistaan agama yang dilakukan oleh Gubernur Jakarta, Basuki Tjahaya Purnama atau Ahok. Kasus ini bermula dari ucapan Ahok yang dianggap menyinggung umat Islam oleh sebagian umat Islam Jakarta. Sebenarnya hal semacam ini tidak perlu terjadi jika Ahok menerapkan falsafah jawa yang diterapkan oleh rekan sejawatnya, Presiden Jokowi.
Dalam ungkapan Jawa disebutkan " Ajining diri gumantung ono ing lathi, ajining raga ana ing busono". Peribahasa atau ungkapan ini mengandung maksud, nilai diri dari seseorang itu tergantung dari apa yang keluar dari mulut (omongan), dan nilai fisik tergantung pada pakaian yang dikenakan.
Peribahasa ini mengajarkan kita untuk selalu berhati hati dalam berbicara, pandai menjaga mulut atau ucapan, seperti tidak berbohong, tidak berkata kasar, tidak menghina dan tidak melukai perasaan orang lain. Hal ini penting karena dengan ucapan yang terjaga akan menimbulkan respek lawan bicara maupun kawan untuk lebih menghargai kita.
Akan berbeda jika kita tidak bisa menjaga mulut, sehingga setiap ucapan yang kita keluarkan selalu menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain, maka martabat dan nilai kita pun akan terkikis dan akhirnya orang akan memberikan label yang rendah kepada diri kita.
Kemudian filosofi jawa selanjutnya, ajining rogo gumantung ono ing busono, berarti nilai fisik seseorang itu tergantung kepada apa yang dikenakannya (pakaiannya). Mungkin kita pun kadang menilai dan memberi persepsi kepada apa yang kita lihat, misalnya wanita yang mengenakan kerudung, persepsi kita akan mengatakan bahwa wanita itu alim dan sholehah, meskipun kenyataannya dia adalah wanita nakal, sebaliknya apabila kita melihat wanita dengan pakaian yang minim dan terbuka, persepsi kita akan mengatakan bahwa mungkin itu wanita nakal, meskipun pada kenyataannya dia wanita baik-baik.
Filosofi ini mengajarkan kepada kita untuk selalu menutup aurat sebagai penghormatan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, sebagai contoh, ketika kita kedatangan tamu, maka ketika pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang tertutup dan rapi, tamu tersebut merasa dihormati dan akan menilai kita dengan harga yang tinggi. Akan berbeda apabila sebaliknya.
Filosofi Jawa ini saat ini sudah mulai luntur karena perkembangan jaman, budaya bebas dan gaul yang saat ini menjangkiti kawula muda, rasa malu sudah terkikis oleh keinginan untuk dilihat seksi dan gaul, akan tetapi masih banyak juga dari orang tua jawa yang memberikan batasan yang keras dalam hal perkataan dan cara berpakaian, dan biasanya orang orang yang mau melakukan dan menjalankan petuah luhur ini akan mempunyai nilai yang tinggi dalam masyarakat.
Semoga ada manfaatnya...
Dalam ungkapan Jawa disebutkan " Ajining diri gumantung ono ing lathi, ajining raga ana ing busono". Peribahasa atau ungkapan ini mengandung maksud, nilai diri dari seseorang itu tergantung dari apa yang keluar dari mulut (omongan), dan nilai fisik tergantung pada pakaian yang dikenakan.
Peribahasa ini mengajarkan kita untuk selalu berhati hati dalam berbicara, pandai menjaga mulut atau ucapan, seperti tidak berbohong, tidak berkata kasar, tidak menghina dan tidak melukai perasaan orang lain. Hal ini penting karena dengan ucapan yang terjaga akan menimbulkan respek lawan bicara maupun kawan untuk lebih menghargai kita.
Akan berbeda jika kita tidak bisa menjaga mulut, sehingga setiap ucapan yang kita keluarkan selalu menyinggung dan menyakiti perasaan orang lain, maka martabat dan nilai kita pun akan terkikis dan akhirnya orang akan memberikan label yang rendah kepada diri kita.
Kemudian filosofi jawa selanjutnya, ajining rogo gumantung ono ing busono, berarti nilai fisik seseorang itu tergantung kepada apa yang dikenakannya (pakaiannya). Mungkin kita pun kadang menilai dan memberi persepsi kepada apa yang kita lihat, misalnya wanita yang mengenakan kerudung, persepsi kita akan mengatakan bahwa wanita itu alim dan sholehah, meskipun kenyataannya dia adalah wanita nakal, sebaliknya apabila kita melihat wanita dengan pakaian yang minim dan terbuka, persepsi kita akan mengatakan bahwa mungkin itu wanita nakal, meskipun pada kenyataannya dia wanita baik-baik.
Filosofi ini mengajarkan kepada kita untuk selalu menutup aurat sebagai penghormatan kepada diri sendiri dan kepada orang lain, sebagai contoh, ketika kita kedatangan tamu, maka ketika pakaian yang kita kenakan adalah pakaian yang tertutup dan rapi, tamu tersebut merasa dihormati dan akan menilai kita dengan harga yang tinggi. Akan berbeda apabila sebaliknya.
Filosofi Jawa ini saat ini sudah mulai luntur karena perkembangan jaman, budaya bebas dan gaul yang saat ini menjangkiti kawula muda, rasa malu sudah terkikis oleh keinginan untuk dilihat seksi dan gaul, akan tetapi masih banyak juga dari orang tua jawa yang memberikan batasan yang keras dalam hal perkataan dan cara berpakaian, dan biasanya orang orang yang mau melakukan dan menjalankan petuah luhur ini akan mempunyai nilai yang tinggi dalam masyarakat.
Semoga ada manfaatnya...
Subscribe to:
Posts (Atom)












